Pawening Esti Pramundi You can describe me as an ice cream. It's cold. But you know, ice cream is very sweet.

Jangan Jadi Pendusta Agama ! Siapakah Orang itu?

1 min read

Jangan Jadi Pendusta Agama

Suatu hari saya berjalan bersama salah satu teman saya, di dekat kampus kami, di dekat Stasiun Pondok Cina tepatnya. Di sepanjang jalan itu kami melihat beberapa orang (yang mungkin orang banyak menilai) “kurang beruntung hidupnya”.

Beberapa dari mereka memakai kostum badut sambil mengadahkan wadah yang berisi beberapa koin. Sebagian yang lain ada yang duduk sambil meyetel musik gambus, sampai yang paling membuat hati saya miris, ada seorang ibu dan anak kecilnya yang tidur di pinggir jalan beralaskan tikar kecil. Ibu dan anak kecil itu menghirup debu-debu bekas hentakan kaki orang yang lalu lalang di hadapannya.

Ibu dan anak kecil itu tidur dalam keadaan meringkuk karena alas tempat mereka tidur begitu kecil dan barangkali mereka tertidur dalam keadaan menahan lapar serta dalam keadaan hati yang amat hancur.

Sambil meneruskan perjalanan yang tidak lama lagi itu, teman saya membuka topik diskusi,

Paw menurutmu gimana sih itu para pengemis di jalanan. Kalau dikasih uang sama aja membuat mereka malas bekerja nggak sih? Tapi kalau nggak dikasih uang kasihan juga. Serba salah banget menurutku

Aku yang belum sempat menjawab pertanyaannya, sudah harus berpisah di salah satu persimpangan Jalan Margonda. Akhirnya kututup perjumpaan hari itu dengan kalimat “mungkin kita bisa lanjut diskusi ini lain waktu. Fii amanillah

Yang selama ini aku tahu, memberi itu tidak pandang bulu. Tak peduli siapa ia, laki-laki ataupun perempuan, punya pekerjaan ataupun tidak, dewasa ataupun anak-anak, dari suku mana ia, bahkan tak peduli apa agamanya. Tapi ada sedikit yang aku tahu, memberi yang paling Allah sukai itu memberikan sesuatu untuk orang-orang terdekat kita. Untuk keluarga, kemudian tetangga dan yang lainnya.

Meskipun begitu, bukan tidak boleh kan memberi kepada orang yang belum kita kenal? Bukankah dikisahkan Bunda Khadijah pernah berjalan di suatu pasar dan ia melihat seorang pengemis lalu ia memberikan beberapa emas, lalu ia berjalan lagi beberapa langkah dan ia kembali menemui pengemis dan ia kembali memberikan beberapa emas. Begitu berjalan beberapa langkah lagi ia kembali menemui pengemis dan  ia kembali memberikan beberapa emas yang jumlahnya tidak sedikit.

Bukan untuk menasihati, karena yang menulis masih miskin ilmu dan sangat butuh untuk dinasihati. Namun, izinkan saya mengajak teman-teman agar tidak hanya terfokus pada ibadah-ibadah kita saja, tetapi juga lebih peka terhadap sekeliling kita dan lebih mudah menunduk kebawah untuk melihat saudara-saudara kita yang sedang hancur hatinya.

Mulai detik ini, mari sama-sama sempurnakan iman kita dengan berbagi untuk saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan. Bukan karena ingin membuat mereka malas bekerja, bukan. Luruskanlah niat kita menjadi LILLAH dan biarlah Allah yang membalas setiap amal perbuatan kita.

karena sebenarnya, bukanlah mendustakan agama itu karena pendek shalatnya. Akan tetapi karena iman kita yang belum bisa meringankan hati untuk berbagi terhadap sesama.

Bukankah Allah Ta’ala sudah katakan,

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Mereka adalah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”

HR Imam Ahmad

Semoga ada yang bisa kita renungkan.

#ntms

Pawening Esti Pramundi You can describe me as an ice cream. It's cold. But you know, ice cream is very sweet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *